"Nu maaf, mungkin ini terakhir kali kita bertemu" itulah kata-kata yang selalu terngiang dikepalaku.
Hari ini seperti biasa aku langkahkan kaki menelusuri jalan untuk menghirup segarnya udara, anak-anak kecil terdengar riang bernyanyi bersama. Nuansa yang membuat pagi ini begitu cerah dengan pemandangan puncak gunung yang terlihat begitu jelas. Setelah puas melangkahkan kaki menelusuri jalan aku membalikan arah untuk kembali pulang.
"Ahh hari ini libur saatnya istirahat g' mikirin kantor" kulirik laptop sebentar "hmm lama juga gak cek e-mail" batinku."wah banyak banget e-mail yang masuk" sambil kulihat semua e-mail yang ada.
"E-mail koq isinya cuma confirmation FB sama Twitter"
"Nu kemaren ada surat buat kamu, sudah baca?" terdengar suara lembut di belakangku.
"Eh An, belum tuh memang ada surat buat aku?"
"Iya kemaren ada surat dateng, tuh di meja emang kamu g' liat ada amplop disitu?"
"G' An, nih aku aja baru liat".
Ana adalah sahabat sekaligus seorang "kakak" bagiku, dialah yang mengerti apa yang aku rasakan selama ini, bagai mana lelahnya aku berjuang memenuhi kebutuhan hidupku. Dia pula yang menenangkan kegundahan hatiku selama ini. Ana dan aku berasal dari kota yang sama dan kami bekerja pun di kota yang sama, selama ini kami hidup di kost yang penghuninya laki-laki dan perempuan.
Kulihat surat itu tertera sebuah alamat yang tidak begitu asing buatku, "Dari dia, ada apa?" saat itu pula hatiku merasakan sesuatu yang cukup membingungkan antara bahagia, marah, sakit. Tapi aku berfikir aku bagahia karena apa, marah atapaun sakit karena apa? Bukankah itu masa lalu.
Perlahan kubaca surat itu "Hufft..." kurebahkan diri di atas tempat tidur sambil kulempar surat itu ke arah tempat sampah.
"Lo koq dibuang suratnya?"
"Surat g' penting"
Sesaat kulihat Ana melangkah ke arah tempat sampah tersebut dan mengambil surat itu.
"Nu, inikan surat dari Pia? Kenapa di buang?"
"Kan sudah kubilang tadi surat g' penting"
"Jangan begitu dong, dia kan hanya meminta kamu untuk menemuinya" sambil mengambil posisi duduk dipojok tempat tidurku.
Tak kuperhatikan saat Ana mengatakan hal tersebut, pikiranku hanya tertuju saat dia mengatakan hal yang selalu terngiang dikepalaku.
"An..." keluar sebuah kata yang tidak aku sadari.
"Ya Nu kenapa?"
"Eh g' An ,sarapan yuk" kataku untuk mengalihkan pembicaraan tadi.
Dalam hati aku bertanya apa aku mencintai Ana atau Pia? Aku merasa tenang saat bersama Ana tapi hatiku masih tertuju kepada Pia.
"Nu mikirin apa kamu?" celetuk ana membuyarkan lamunanku.
"G' An, g' mikirin apa-apa"
"Eh An nanti sore temenin aku ke Purwokerto mau?" tanyaku sambil melahap bubur ayam kesukaanku.
"Emang mau ngapain Nu? Kalau buat nemenin kamu ketemu Pia aku g' ikut deh ntar ganggu lagi" dengan raut wajah yang berubah masam.
"Ya An masa g' mau, please ya aku males kalo harus pulang ke Purwokerto sendirian ntar pasti ketahan disana, kalo ada temennya jadi cepet balik lagi kesini" masih sambil menguyah sisa roti yang tersisa dimulutku.
"Yang penting ada saratnya" timpalnya.
"Apaan An?
"Itu tugas kantor habisin kamu" sambil menunjuk tumpukan file di atas meja.
"Buset An banyak banget, emm tapi g' apa-apa deh" aku menyanggupi syarat yang di ajukan Ana.
Sore itu kami menuju ke purwokerto untuk menemui Pia, ya meski sebenernya cuma aku yang menemuinya sementara Ana pulang kerumah orang tuanya.
Butuh waktu 6 Jam perjalanan untuk sampai Purwokerto. Sesampainya di Purwokerto aku langsung mengantarkan Ana pulang terlebih dahulu sementara selanjuntnya aku langsung menemui Pia terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah orang tuaku.
"Assalamualaikum" kulemparkan salam saat di depan rumah Pia.
"Wa'alaikumussalam, cari siapa ya mas?" seorang wanita paruh baya menjawab salamku yang tidak lain adalah ibunya Pia.
"Maaf bu, Pia ada, saya Anugrah bu"
"Wah nak Anugrah, silahkan masuk dulu, Pia ada sebantar ibu panggil" tampak senyum yang tidak berubah dari dulu terakhir melihantnya saat mengetahui aku yang datang.
Tidak lama kemudian Pia keluar dari dalam dengan senyum yang persis ibunya.
Pia tidaklah cantik tetapi dia memiliki aura yang membuatnya tampak begitu cantik, jika di bandingkan dengan Ana masih lebih baik Ana baik dari segi fisik ataupun aura. Tinggi Pia tidak menyamai tinggi Ana yang hampir setara dengan mataku. Pia secara face seperti Luna Maya tetapi kalau Ana lebih clasic face alias wajah wanita jawanya terlihat jelas.
"Dah lama Nu?" sapanya saat pertama kali sejak kejadian itu.
"Belum Ka, baru nih."
"Masih inget toh sama panggilan itu?"
"Masih" tiba-tiba suasana menjadi sedikit terasa tegang saat aku memanggilnya dengan kata Ka.
Selama ini aku memang berbeda dengan yang lain dalam memanggil nama Pia aku lebih sering memanggil dia dengan nama belakanganya Kartika atau lebih simpel Ika.
"Oh ya kamu mau ngomongin apa Ka?"
"Dih masih kaya dulu to the point"
"Namanya juga watak Ka"
"Nu sebelumnya aku minta maaf atas kejadian yang dulu dan kejadian sekarang, mungkin kamu sudah tidak ingin kerumahku lagi.
"G' apa-apa Ka, yang lalu biarlah berlalu hanya ssebuah kenangan.
"Ya syukurlah kalo kamu berfikiran begitu Nu."
"Begini Nu selama empat tahun ini aku terus memikirkan hal itu, aku harus mengakuinya bahwa aku bersalah meski kamu sudah memaafkan aku, Nu yang ingin aku katakan bahwa aku masih ingin bersama kamu membuka lembaran baru."
Belum selsai Pia bicara kupotong perkataannya.
"Maaf Ka sebelumnya, sebenarnya aku sudah tahu maksud kamu sebelumnya meskipun itu hanya lewat sebuah surat, dan aku sudah menimbang-nimbang hal ini aku g' bisa Ka untuk seperti dulu, aku akan lebih bahagia jika kamu bisa bersama orang lain Ka dari pada kamu harus bersama aku."
"Aku berterimakasih sama kamu Ka masih diijinkan untuk bertemu kamu dan aku mohon maaf aku g' bisa untuk kembali Ka"
"Emm apa benar-benar g' bisa Nu?" pintanya memelas.
"Maaf Ka g' bisa, aku mohon diri Ka, Assalamualaikum" aku jawab permintaan Pia sambil memohon diri untuk pulang.
Dalam hati aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa Analah yang aku cari selama ini, dialah yang akan menemani perjalananku.
Terdengar nyaring bunyi handphone menunjukan alarm berbunyi sesuai dengan waktu yang aku atur semalam, setelah selesai menunaikan kewajiban yang harus dilakukan saatnya siap-siap untuk menghirup kesegaran udara pagi.
Saat hendak keluar dari rumah terdengar ada pesan masuk di handphoneku ternyata dari Ana "Nu ntar kita balik ke Bandung jam berapa?" bunyi pesan dari Ana
"Jam 8 sayang... kemarinkan kita udah deal jam 8"
"Waduh kenapa ada kata sayangnya pula, udah di kirim pula" gerutuku dalam hati
"Habis CLBK seneng nih hehehehe" balasan dari Ana.
Tidak ku respon pesan terakhir dari Ana, yang jelas aku bahagia di pagi buta mendapat SMS dari seseorang yang akan menemani jalanku.
Jam 07.30 WIB aku meluncur kearah rumah Ana untuk menjemputnya. Dan tanpa A B C D kami pun segera berangakat kearah Bandung, di tengah-tengah perjalanan tanpa aku sadari meluncur pertanyaan "Ana maukah kamu menjadi pendamping hidupku?"
"Nu ngomong apaan sih kamu?" Ana balik bertanya dengan nada sedikit bingung dan malu.
"Eh maaf An tadi...." perkataanku terputus tidak tahu apa yang akan aku ucapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar