Selasa, 23 Oktober 2012

Cobalah kita Mengalah

Terkadang dalam sebuah kehidupan pilihan begitu menyakitkan dan yang tak perbah kita sadari adalah mengalah kepada lilihan yang menyakitkan itu, dan lebih mementingkan ego kita.
Berasal dari pengalaman diri seharusnya kita menyadari bahwa kita selalu mementingkan ego kita saja tanpa pernah kita mau mengalah, dalam hidup kita memang harus menjadi seorang pemenang tapi apa salahnya jika kita merasakan kekalahan, kalah yang sebenarnya dalam menentukan sikap dalam sebuah pilihan karena kita telah menang saat kita merasakan kekalah dalam menentukan sikap dan mengambil pilihan itu. Dengan kita mementingkan ego kita telah kalah meski kita mengatkan kita menang, dan itu semua kita pernah mengalaminya.
Cobalah bersikap sebaik mungkin disaat kita dalam situasi pengambilan sebuah pilihan, meski pilihan itu menyakitkan kita. Disaat ego bicara maka kita akan mengatakan tidak dalam pengambilan keputusan itu.
Janganlah kita mengatakan "tidak" cobalah kita ambil salah satu pilihan itu, meski itu menyakitkan segala hal. Cobalah kita ambil pelajaran dari pilihan itu bisa saja pilihan yang menyakitkan itu memberi kita kesuksesan yang tidak kita duga.
Tapi sebelumnya pikirkan kembali sebelum mengambil keputusan apa saja baik baik buruknya meski kebanyakan sisi baiknya itu sedik tapi dapat kita bandingkan dengan pilihan yang satunya maka kita akan menemukan sisi baiknya lebih banyak ada dimana?

Rabu, 29 Agustus 2012

Masih Sama

Terkadang jalan kehidupan berbeda jauh dengan apa yang kita pikirkan, "saya ingin seperti ini!" terkadang hal itu terwujud terkadang tidak malah melenceng dari apa yang kita harapakan.
Dahulu aku berfikir dengan melepaskan dirinya untuk orang lain akan baik untuk kami berdua, ya! kami berdua, tetapi ternyata apa yang aku pikirkan berbeda jauh, menginginkan dirinya bahagia dan akupun ikut ber-Bahagia kini aku yang terluka.
Disaat kulihat dirinya meneteskan air mata, aku tahu bahwa dia sebenarnya ingin berlanjut tapi apalah dayaku, aku tak ingin melihatnya terluka dan berharap dia bahagia.
Disaat bersamaan hadir satu orang mulai mengisi kegamanganku, dia mengutarakan isi hatinya, tanpa memikirkan hati ini masih terluka aku "iyakan", meski aku tahu bahwa hati ini masih tertuju kepada dirinya, hanya karena tak ingin melihat wanita terluka, kata "Iya" yang keluar dari bibir ini.
Hubungan kami berlanjut dan diapun juga meski dalam perjalanannya berbeda, tapi aku tahu dia selalu meberikan kesempatan dan terus dan terus, tapi karena begitu menjaga perasaan se-orang wanita aku menutup mata.
Setelah hubunganku berakhir aku mulai melupakan semua hal tentang dirinya dengan mengorbankan perasaanku sendiri.
Kali ini ada hal yang mulai merasuk kembali, ada perasaan penyesalan saat aku ingat melepas dirinya, meski aku tahu kesempatan itu sudah tertutup dari awal saat perasaan itu hadir lagi, kegelisahanlah yang mulai hadir.
Betapa bodohnya aku ini. Tapi buat apa semua sudah terjadi dan kini aku  yang harus pergi. Meski selama ini aku tahu bahwa hatiku selalu tertuju padanya aku selalu menolak.

Terkadang sebuah pengorbanan menyakiti salah satu baik diri kita sendiri atau orang lain, sebelum kita berkorban berfikirlah lebih dalam resiko apa yang akan kita tanggung nantinya.

Minggu, 10 Juni 2012

Better Man

Send someone to love me
I need to rest in arms
Keep me safe from harm
In pouring rain
Give me endless summer
Lord I fear the cold
Feel I’m getting old
Before my time
As my soul heals the shame
I will grow through this pain
Lord I’m doing all I can
To be a better man
Go easy on my conscience
‘Cause it’s not my fault
I know I’ve been taught
To take the blame
Rest assured my angels
Will catch my tears
Walk me out of here
I’m in pain
As my soul heals the shame
I will grow through this pain
Lord I’m doing all I can
To be a better man
Once you’ve found that lover
You’re homeward bound
Love is all around
Love is all around
I know some have fallen
On stony ground
But Love is all around
Send someone to love me
I need to rest in arms
Keep me safe from harm
In pouring rain
Give me endless summer
Lord I fear the cold
Feel I’m getting old
Before my time
As my soul heals the shame
I will grow through this pain
Lord I’m doin’ all I can
To be a better man

Rabu, 30 Mei 2012

Hadapi Hidupmu dan Jalanilah

Hidup memang tidak selalu semulus seperti kulit seorang pesohor maupun jalan di luar negeri. Hidup akan selalu memiliki sebuah hambatan seperti jalan-jalan di negeri kita ini terkadang macet, longsor ataupun rusak.
Saat ini terkadang banyak anak muda merasa malu untuk menjalani kehidupan mereka yang di anggap tidak sebagus orang yang diatas mereka. Selalu berfikir hidup hanya berakhir atau step disini tanpa bisa digerakan lagi.
Apa kita hanya akan berfikiran seperti itu, janganlah kita berfikiran seperti itu, kita tidak tau apakah hidup ini akan berubah baik itu secara bertahap maupun drastis.
Cobalah berfikiran positif dalam menghadapi kerasnya hidup ini dan jalanilah dengan sebaik-baiknya, janganlah seperti keledai dungu yang jatuh pada lubang yang sama, jika kamu pernah jatuh sesaat kemudian pelajarilah kenapa kita jatuh.
Lihatlah balita! kenapa balita? balita adalah contoh manusia yang hanya berfikiran apa yang dibutuh saja. Seorang balita selalu berfikiran apa yang dia mau bukan berarti kita harus bersikap seperti seorang balita yang benar-benar kekanak-kanakan tapi berfikrilah sesua dengan apa yang kamu inginkan dan kamu butuhkan, seorang balita tidak akan meminta hal yang tidak bisa atau mereka butuhkan, misal sorang balita tidak akan meminta sebuah sepeda motor untuk dia kendarai sendiri jalan-jalan keliling komplek, tepi mereka meminta sesuatu seperti gunting untuk memotong sesuatu yang menurut mereka menarik ataupun pensil untuk menggamabar entah itu pada buku atau te,bok sekalipun.
Sekarang marilah kita coba untuk berfikir apa yang kita butuhkan janganlah menjadi seseoarng yang menginginkan sesuatu tetapi menjadi hal yang mubah.

Maxthon web browser tercepat saat ini!!

Maxthon adalah web browser buatan cina yang diklaim lebih cepat dari pada google chrome, meski buatan cina jangan salah web browser ini lumayan atau malah lebih enak dipandang hehehe...
Nih gan screennya...




 Web browser ini juga memiliki fitur yang mudah kita gunakan, kalo di lihat-lihat fiturnya hampir kaya flock tapi lebih simpel...

Maju atau Mundur?

Tergelitik dengan pertanyaan seorang teman sebut saja "S" yang baru saja dia tanyakan kepada saya, saya mencoba untuk mempostingnya.
Teman saya ini memiliki masalah tentang sebuah banyak hal tentang apa yang di namakan "Cinta". Dia bilang bahwa dia mencintai seseorang yang bisa dikatakan mantan pacar tetapi belum pernah mengatakan putus, tetapi sang mantan sudah memiliki seseorang tunangan, ribet kali koneksi hubungannya gan.
Dalam beberapa hari ini dia berhubungan dengan "sang mantan" sangat intens sampai sering ketemu, pergi ataupun hanya sekedar menemaninya makan. Hmm makan koq minta ditemenin kaya g' ada orang lain aja. Singkat cerita dia ketahuan sama si tunangan "sang mantan" ya mau g' mau terima deh sop buah keluar dari mulut tunangan "sang mantan", dan karena merasa bersalah dia g' bisa jawab apa-apa.

Sebagai seorang teman yang baik dan budiman (ceritanya hehehe) ya saya harus memberikan sebuah solusi yang baik pula.
Dari kasus di atas dan dari pernyataan si korban (S) bahwa di sebenarnya ingin menolak tapi tidak bisa, saya mencoba menyimpulkan bahwa "S" masih memiliki kebimbangan di dalam hatinya antara maju atau mundur. Ini jawaban saya atas keluh kesah si "S" kepada saya.
  1. Jika dilihat secara manusiawi silahkan saja toh ituk hak asasi kalian, yang penting bukan dalam keadaan si "mantan" sudah menikah. Tinggal bilang "dia bukan istri kamu masih seorang tunangan jadi sah-sah saja dong mendekati dia".
  2. Lebih baik mundur biar masa lalu ya masa lalu sekarang ya sekarang, karena apapun hasilnya nantinya tika akan baik buat kalian berdua. Sekarang iya bisa mengatakan aku cinta kamu tapi nanti apa masih bisa merasakan kenyamanan dari hasil buah yang kamu tanam dahulu, apa yang kamu tanam kamu pula yang memetiknya.
  3. Perjelas isi hatimu dulu apa yang kamu rasakan sekarang tapi bukan kamu katakan kepadanya tapi kepada dirimu sendiri, sekarang kamu coba jangan berhubungan dulu kalaupun mau membalas SMS dari dia jawab sesimple mungkin contoh : "lagi apa nih?" jawab aja "kerja." dah seperti itu saja jangan ditambah "lha kamu atau kamu lagi apa?". Tidak masalah dikatakan kejam itu juga buat kalian berdua.
  4. Jika kamu masih nekat kaya no. 1 silahkan tapi kamu tanya dulu dia bagaimana, meski kamu sudah tau resikonya terhadap dia ataupun kamu.
Masalah tentang "Cinta" memang tidak akan pernah habis  bahkan terkadang menjadi benang kusut yang tidak jelas kapan selesainya.

NB: ini hanya berbagi siapa tau solusi saya bisa membantu agan-agan yang memiliki masalah yang sama.

Selasa, 29 Mei 2012

Kamu dan Jalanku.

"Nu maaf, mungkin ini terakhir kali kita bertemu" itulah kata-kata yang selalu terngiang dikepalaku.

Hari ini seperti biasa aku langkahkan kaki menelusuri jalan untuk menghirup segarnya udara, anak-anak kecil terdengar riang bernyanyi bersama. Nuansa yang membuat pagi ini begitu cerah dengan pemandangan puncak gunung yang terlihat begitu jelas. Setelah puas melangkahkan kaki menelusuri jalan aku membalikan arah untuk kembali pulang.
"Ahh hari ini libur saatnya istirahat g' mikirin kantor" kulirik laptop sebentar "hmm lama juga gak cek e-mail" batinku."wah banyak banget e-mail yang masuk" sambil kulihat semua e-mail yang ada.
"E-mail koq isinya cuma confirmation FB sama Twitter"
"Nu kemaren ada surat buat kamu, sudah baca?" terdengar suara lembut di belakangku.
"Eh An, belum tuh memang ada surat buat aku?"
"Iya kemaren ada surat dateng, tuh di meja emang kamu g' liat ada amplop disitu?"
"G' An, nih aku aja baru liat".

Ana adalah sahabat sekaligus seorang "kakak" bagiku, dialah yang mengerti apa yang aku rasakan selama ini, bagai mana lelahnya aku berjuang memenuhi kebutuhan hidupku. Dia pula yang menenangkan kegundahan hatiku selama ini. Ana dan aku berasal dari kota yang sama dan kami bekerja pun di kota yang sama, selama ini kami hidup di kost yang penghuninya laki-laki dan perempuan.

Kulihat surat itu tertera sebuah alamat yang tidak begitu asing buatku, "Dari dia, ada apa?" saat itu pula hatiku merasakan sesuatu yang cukup membingungkan antara bahagia, marah, sakit. Tapi aku berfikir aku bagahia karena apa, marah atapaun sakit karena apa? Bukankah itu masa lalu.
Perlahan kubaca surat itu "Hufft..." kurebahkan diri di atas tempat tidur sambil kulempar surat itu ke arah tempat sampah.
"Lo koq dibuang suratnya?"
"Surat g' penting"

Sesaat kulihat Ana melangkah ke arah tempat sampah tersebut dan mengambil surat itu.
"Nu, inikan surat dari Pia? Kenapa di buang?"
"Kan sudah kubilang tadi surat g' penting"
"Jangan begitu dong, dia kan hanya meminta kamu untuk menemuinya" sambil mengambil posisi duduk dipojok tempat tidurku.

Tak kuperhatikan saat Ana mengatakan hal tersebut, pikiranku hanya tertuju saat dia mengatakan hal yang selalu terngiang dikepalaku.
"An..." keluar sebuah kata yang tidak aku sadari.
"Ya Nu kenapa?"
"Eh g' An ,sarapan yuk" kataku untuk mengalihkan pembicaraan tadi.

Dalam hati aku bertanya apa aku mencintai Ana atau Pia? Aku merasa tenang saat bersama Ana tapi hatiku masih tertuju kepada Pia.
"Nu mikirin apa kamu?" celetuk ana membuyarkan lamunanku.
"G' An, g' mikirin apa-apa"
"Eh An nanti sore temenin aku ke Purwokerto mau?" tanyaku sambil melahap bubur ayam kesukaanku.
"Emang mau ngapain Nu? Kalau buat nemenin kamu ketemu Pia aku g' ikut deh ntar ganggu lagi" dengan raut wajah yang berubah masam.
"Ya An masa g' mau, please ya aku males kalo harus pulang ke Purwokerto sendirian ntar pasti ketahan disana, kalo ada temennya jadi cepet balik lagi kesini" masih sambil menguyah sisa roti yang tersisa dimulutku.
"Yang penting ada saratnya" timpalnya.
"Apaan An?
"Itu tugas kantor habisin kamu" sambil menunjuk tumpukan file di atas meja.
"Buset An banyak banget, emm tapi g' apa-apa deh" aku menyanggupi syarat yang di ajukan Ana.

Sore itu kami menuju ke purwokerto untuk menemui Pia, ya meski sebenernya cuma aku yang menemuinya sementara Ana pulang kerumah orang tuanya.
Butuh waktu 6 Jam perjalanan untuk sampai Purwokerto. Sesampainya di Purwokerto aku langsung mengantarkan Ana pulang terlebih dahulu sementara selanjuntnya aku langsung menemui Pia terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah orang tuaku.
"Assalamualaikum" kulemparkan salam saat di depan rumah Pia.
"Wa'alaikumussalam, cari siapa ya mas?" seorang wanita paruh baya menjawab salamku yang tidak lain adalah ibunya Pia.
"Maaf bu, Pia ada, saya Anugrah bu"
"Wah nak Anugrah, silahkan masuk dulu, Pia ada sebantar ibu panggil" tampak senyum yang tidak berubah dari dulu terakhir melihantnya saat mengetahui aku yang datang.
Tidak lama kemudian Pia keluar dari dalam dengan senyum yang persis ibunya.
Pia tidaklah cantik tetapi dia memiliki aura yang membuatnya tampak begitu cantik, jika di bandingkan dengan Ana masih lebih baik Ana baik dari segi fisik ataupun aura. Tinggi Pia tidak menyamai tinggi Ana yang hampir setara dengan mataku. Pia secara face seperti Luna Maya tetapi kalau Ana lebih clasic face alias wajah wanita jawanya terlihat jelas.
"Dah lama Nu?" sapanya saat pertama kali sejak kejadian itu.
"Belum Ka, baru nih."
"Masih inget toh sama panggilan itu?"
"Masih" tiba-tiba suasana menjadi sedikit terasa tegang saat aku memanggilnya dengan kata Ka.
Selama ini aku memang berbeda dengan yang lain dalam memanggil nama Pia aku lebih sering memanggil dia dengan nama belakanganya Kartika atau lebih simpel Ika.
"Oh ya kamu mau ngomongin apa Ka?"
"Dih masih kaya dulu to the point"
"Namanya juga watak Ka"
"Nu sebelumnya aku minta maaf atas kejadian yang dulu dan kejadian sekarang, mungkin kamu sudah tidak ingin kerumahku lagi.
"G' apa-apa Ka, yang lalu biarlah berlalu hanya ssebuah kenangan.
"Ya syukurlah kalo kamu berfikiran begitu Nu."
"Begini Nu selama empat tahun ini aku terus memikirkan hal itu, aku harus mengakuinya bahwa aku bersalah meski kamu sudah memaafkan aku, Nu yang ingin aku katakan bahwa aku masih ingin bersama kamu membuka lembaran baru."
Belum selsai Pia bicara kupotong perkataannya.
"Maaf Ka sebelumnya, sebenarnya aku sudah tahu maksud kamu sebelumnya meskipun itu hanya lewat sebuah surat, dan aku sudah menimbang-nimbang hal ini aku g' bisa Ka untuk seperti dulu, aku akan lebih bahagia jika kamu bisa bersama orang lain Ka dari pada kamu harus bersama aku."
"Aku berterimakasih sama kamu Ka masih diijinkan untuk bertemu kamu dan aku mohon maaf aku g' bisa untuk kembali Ka"
"Emm apa benar-benar g' bisa Nu?" pintanya memelas.
"Maaf Ka g' bisa, aku mohon diri Ka, Assalamualaikum" aku jawab permintaan Pia sambil memohon diri untuk pulang.
Dalam hati aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa Analah yang aku cari selama ini, dialah yang akan menemani perjalananku.

Terdengar nyaring bunyi handphone menunjukan alarm berbunyi sesuai dengan waktu yang aku atur semalam, setelah selesai menunaikan kewajiban yang harus dilakukan saatnya siap-siap untuk menghirup kesegaran udara pagi.
Saat hendak keluar dari rumah terdengar ada pesan masuk di handphoneku ternyata dari Ana "Nu ntar kita balik ke Bandung jam berapa?" bunyi pesan dari Ana
"Jam 8 sayang... kemarinkan kita udah deal jam 8"
"Waduh kenapa ada kata sayangnya pula, udah di kirim pula" gerutuku dalam hati
"Habis CLBK seneng nih hehehehe" balasan dari Ana.
Tidak ku respon pesan terakhir dari Ana, yang jelas aku bahagia di pagi buta mendapat SMS dari seseorang yang akan menemani jalanku.

Jam 07.30 WIB aku meluncur kearah rumah Ana untuk menjemputnya. Dan tanpa A B C D kami pun segera berangakat kearah Bandung, di tengah-tengah perjalanan tanpa aku sadari meluncur pertanyaan  "Ana maukah kamu menjadi pendamping hidupku?"
"Nu ngomong apaan sih kamu?" Ana balik bertanya dengan nada sedikit bingung dan malu.
"Eh maaf An tadi...." perkataanku terputus tidak tahu apa yang akan aku ucapkan.